Konflik yang Tak Kunjung Usai: Studi Multispesies Petani dan Monyet Ekor Panjang lewat Ekologi Politik Kritis
DOI:
https://doi.org/10.53697/iso.v6i1.3261Keywords:
Multispesies, Ekologi Politik, Macaca Fascicularis, GunungkidulAbstract
Penelitian ini ingin menguraikan mengapa masalah perambanan monyet ekor panjang (MEP) di Gunungkidul belum dapat diatasi lewat etnografi multispesies untuk menggali relasi petani lokal dengan MEP kemudian dihubungkan dengan perspektif ekologi politik dengan melihat bagaimana institusi pemerintah merespons dan merepresentasikan masalah perambanan MEP. Pada penelitian ini kita dapat melihat relasi petani dusun Abang dengan MEP sudah terjalin sejak zaman dahulu dan hanya meramban di sekitar sarang mereka. Namun, dalam 10 tahun terakhir, perambanan oleh MEP menyebar sehingga dirasakan seluruh petani secara kolektif. Hilangnya habitat MEP akibat pembangunan infrastruktur pariwisata di Gunungkidul menjadi penyebab masalah ini sehingga MEP perlu mencari habitat lain, terutama dekat dengan pertanian masyarakat. Rehabilitasi habitat MEP dengan menanam tanaman buah yang menjadi solusi yang sulit diwujudkan. Para petani dengan kondisi ekonomi miskin tidak memiliki biaya untuk melakukan hal tersebut secara mandiri. Dalam merespons masalah ini, pemerintah kelurahan sudah menyerah. Instansi pemerintah tingkat kabupaten pun hanya memberikan saran tanpa bantuan penanganan yang nyata. Ketika dinas kehutanan mencoba melakukan rehabilitasi habitat MEP justru mendapat penolakan dari petani karena adanya konflik antara petani dan dinas Kehutanan yang sudah berlangsung lama. Di sisi lain, pemerintah pusat masih memandang bahwa MEP sebagai sumberdaya yang masih melimpah dan bisa diekspor. Berbagai tingkat instansi pemerintah masih merepresentasikan MEP sebagai hama pengganggu kehidupan petani miskin yang banyak jumlahnya yang membuat rehabilitasi habitat belum menjadi fokus. Penelitian ini menyarankan pihak pemerintah untuk menempatkan MEP sebagai korban sehingga dapat mendorong kebijakan politik yang memperhatikan ruang hidup mereka dengan keterlibatan petani lokal di dalamnya.
References
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Gunungkidul (2024).Informasi Program Pembangunan Kabupaten Gunungkidul tahun 2024. Gunungkidul
Badan Riset Inovasi Nasional & Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2023). Non-Detrimental Findings (NDF) For Long-Tailed Macaques (Macaca Fascicularis) in Indonesia. Jakarta
BuddyKu (2023, Oktober 9) Profil Andi Amran Sulaiman, Eks Mentan Pendiri Tiran Group. RCTI+, https://www.rctiplus.com/news/detail/olahraga/4064173/profil-andi-amran-sulaiman-eks-mentan-pendiri-tiran-group
Cant, J.G.H. (1988). Positional Behavior of Long-Tailed Macaques (Macaca fascicularis) in Northern Sumatra. American Journal of Physical Anthropology 76, 29-37. 10.1002/ajpa.1330760104
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta & Multi Lisensi (2024). Laporan Akhir Kajian Penanganan Monyet Ekor Panjang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta
Fuentes, A. (2006). Human-Nonhuman Primate Interconnections and Their Relevance to Anthropology. Ecological and Environmental Anthropology 2(2), 1-11
Gunderson, R. (2011). From Cattle to Capital: Exchange Value, Animal Commodification, and Barbarism. Critical Sociology 39(2), 259-275. https://doi.org/10.1177/08969205114210
Hadi, I., Suryobroto, B., & Perwitasari-Fajarallah, D. (2007). Food Preference of Semi-Provisioned Macaques Based on Feeding Duration and Foraging Party Size. Hayati 14(1), 13-17. https://doi.org/10.4308/hjb.14.1.13
Hansen, M. F., Gill, M., Briefer, E.F., Nielsen, D.R.K. & Nijman, V. (2022). Monetary Value of Live Trade in a Commonly Traded Primate, the Long-Tailed Macaque, Based on Global Trade Statistics. Frontiers in Conservation Science 3:839131. https://doi.org/10.3389/fcosc.2022.839131
Hansen, M.F., Ang, A., Trinh, T., Sy, E., Paramasiwam, S., Ahmed, T., Dimalibot, J., Jones-Engel, L., Ruppert, N., Griffioen, C., Lwin, N., Phiapalath, P., Gray, R., Kite, S., Doak, N., Nijman, V., Fuentes, A. & Gumert, M.D. 2022. Macaca fascicularis. The IUCN Red List of Threatened Species 2022:e.T12551A199563077.https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.20221.RLTS.T12551A199563077.en
Haraway, D.J. (2008). When Species Meet. Minneapolis dan London: University of Minnesota Press
Hockings, K.J. (2017). Mitigating Human–Nonhuman Primate Conflict, dalam Agustin Fuentes (ed.) The International Encyclopedia of Primatology. John Wiley & Sons. PP: 1-8
Juliastuti, N. (2024). Stories of Wounds and Wonder. Amsterdam: If I Can’t Dance
Kirksey, E. & Helmreich, S. (2010). The Emergence of Multispecies. Cultural Anthropology 25(4): 545-576. 10.1111/j.1548-1360.2010.01069.x
KompasTV (2025, Juli 30) [FULL] Dialog Mentan Amran dengan Bupati Gunungkidul-Gubernur Yogya, Singgung Monyet-Irigasi [Video]. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=LFxdl4cKXGo&t=704s
Moore, Jason W (2015). Capitalism in the Web of Life. Verso
Peluso, N.L. (1992). Rich Forest, Poor People. University of California Press
Perlo, K. (2022). What is the Animal Class? : Idea, Position, Goal. Politics and Animals 8, 1-13
Ramsay, M.A., Malabet, F.M., Klass, K., Ahmed, T. & Muzaffar, S. (2023). Consequences of Habitat Loss and Fragmentation for Primate Behavioral Ecology, dalam Tracie McKinney, Sian Waters, dan Michelle A. Rodrigues (eds.) Primates in Anthropogenic LandscapesSpringer. Pp: 9-28
Rifaie, F. , Sulistyadi, E., Fitriana, Y.S., Inayah, N., Maharadatunkamsi, M., Prameswari, W. & Rusmadipraja, I.A. (2024). Spatial patterns of human—long-tailed macaque (Macaca fascicularis) conflicts in Java Island: A comparison of two secondary data sources. Journal of Asia-Pacific Biodiversity 17, 653-662. https://doi.org/10.1016/j.japb.2024.05.008
Riley, E. P. (2018). The Maturation of Ethnoprimatology: Theoretical and Methodological Pluralism. International Journal of Primatology 39, 705-729. https://doi.org/10.1007/s10764-018-0064-4
Riley, E.P., Loria, L.I., Radhakrisnha, S., & Sengupta, A. (2023) Shared Ecologies, Shared Futures: Using the Ethnoprimatological Approach to Study Human-Primate Interfaces and Advance the Sustainable Coexistence of People and Primates, in Tracy McKinney, Sian Waters, dan Michelle A Rodrigues (eds.) Primates in Anthropogenic Landscapes. Springer. Pp: 203-224
Robinson, Paul (2012). Political Ecology [2nd ed]. Wiley-Blackwell
Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Gunungkidul (2024). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Gunungkidul 2025-2045. Gunungkidul
Swanson, H.A. (2014). Methods for Species Anthropology: Thinking with Salmon Otolith and Scales. Social Analysis: The International Journal of Anthropology 61(2), 81-99. http://www.jstor.org/stable/26404929
Tsing, A. L. (2015) The Mushroom at the End of the World. Princeton University Press
Warne, R.K., Moloney, G.K. & Chaber, A. (2023). Is biomedical research demand driving a monkey business?. One Health (16), 1-10. https://doi.org/10.1016/j.onehlt.2023.100520
Wulandari, D. (2024) Koesistensi Manusia dan Kera Ekor Panjang: Studi Multispecies di Kampung Pitu, Nglanggeran. Jurnal Zona 8 (1), 1-7. https://doi.org/10.52364/zona.v8i1.104
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Rifki Afwakhoir

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.



